BAHARUDDIN LOPA, PAHLAWAN YANG TIGA FILOSOFI

(Bagian Pertama dari dua Tulisan)
Oleh: M. Tasbir Rais*

“Mahasuci Allah yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Maha mulia lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk [67]: 1-2).

Setiap tanggal 10 November 2019 merupakan salah satu agenda penting dalam kalender sejarah kebangsaan Indonesia. Ya, kita menyebutnya sebagai Hari Pahlawan. Sebuah hari bersejarah yang sejatinya kita harus mengenang jasa para pahlawan yang telah rela mengorbankan jiwa, tenaga, dan harta hingga tumpah darahnya untuk Bumi Pertiwi ini.
Salah satu pahlawan atau tokoh bangsa yang perlu dikenang jasanya dan sebisa mungkin menjadi sumber inspirasi adalah Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH (selanjutnya disebut Pak Lopa), yang peristiwa kematiannya terjadi pada tanggal 03 Juli 2001 silam. Pak Lopa, salah seorang Maha Putra Bangsa yang lahir di Mandar pada 27 Agustus 1935 itu, meninggal dunia akibat serangan jantung di Rumah Sakit Al Hamadi Riyadh Arab Saudi sekitar pukul 18.10 waktu Riyadh atau pukul 22.10 WIB. Pak Lopa kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta pada 06 Juli 2001. Dan, Indonesia pun menangis.
Benar, kepergiannya secara mendadak ketika itu sungguh menggugah perasaan sedih dan membuat hati trenyuh. Lihat saja, dari warung-warung kopi hingga pemberitaan media massa betapa melukiskan bahwa kepergiaannya ditangisi oleh banyak kalangan. Bendera-bendera diturunkan setengah tiang dan skala liputan media massa, baik cetak maupun elektronik tentang sosoknya yang luar biasa itu. Pepatah berikut ini paling klop untuk menggambarkan pribadi Pak Lopa : “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati meninggalkan nama.”
Bahwa membaca sejarah hidup Pak Lopa, sesungguhnya kita membaca cerita penegakan hukum yang diwarnai kontroversi. Kontroversi itu terjadi karena Pak Lopa cenderung ber-“kacamata kuda” dalam menegakkan hukum. Artinya, Pak Lopa menginginkan hukum itu ditegakkan meski langit besok pagi akan runtuh. Bahwa setiap ada kesempatan, Pak Lopa akan berusaha semaksimal mungkin menegakkan hukum dan keadilan. Makanya, ketika Presiden KH. Abdurrahman Wahid memintanya untuk masuk kabinet, Pak Lopa pun lantas menerimanya dengan motivasi untuk menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Bukan sebaliknya, memanfaatkan jabatan dengan niat untuk menumpuk harta dan sekaligus memperkaya diri sendiri.
Bahwa jauh sebelum Pak Lopa meninggal dunia, gebrakannya dalam menegakkan hukum dan keadilan di negeri tercinta ini senantiasa terngiang-ngiang di telinga kita. Termasuk ketika Pak Lopa menginjakkan kaki di kantor barunya sebagai Menteri Kehakiman dan HAM. Pada saat itu, Pak Lopa segera mengeluarkan “Maklumat 12 Februari 2001” yang jadi “buah bibir” saat itu. Isi maklumat itu pada intinya adalah melarang bagi semua karyawan Departemen Kehakiman dan HAM serta para hakim untuk menerima dan berkomunikasi dengan pihak lain, yang membuka peluang kemungkinan terjadinya praktek suap. Sebuah praktek yang diyakininya bertentangan dengan ajaran agamanya (baca: Islam).

Pak Lopa senantiasa mengingat Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi: ”Allah mengutuk si pemberi suap dan si penerima suap,” (HR. Ahmad dan Turmuzi). Sabda Nabi Muhammad SAW yang lain dalam benaknya: ”Si pemberi dan si penerima suap sama-sama di dalam neraka,” (HR. Abu Daud).
Dalam perjalanan waktu, tatkala Presiden Abdurrahman Wahid kemudian mempercayakan kepadanya untuk menjabat sebagai Jaksa Agung RI menggantikan Marzuki Darusman pada 01 Juni 2001, Pak Lopa memang tidak segera melakukan gebrakan berupa maklumat. Akan tetapi, lebih dari sekadar maklumat, Pak Lopa segera mengumumkan akan memeriksa sejumlah oknum politisi kelas wahid dan pejabat penting lain ketika itu akan diperiksanya andaikata yang bersangkutan ada indikasi terlibat korupsi. Kebijakan Pak Lopa itu diambil dengan rasionalitas dan bukti-bukti hukum yang meyakinkan, bukan karena pertimbangan lain di luar hukum. Katakanlah, pertimbangan politik misalnya.

Penulis, M. Tasbir Rais, M. Hum [Kemeja Putih] bersama ketua Pemuda Muhammadiyah Polman

Dalam rapat kerja dengan Komisi II DPR pada pertengahan Juni 2001, Pak Lopa juga menyatakan bahwa setidaknya ada sepuluh kasus korupsi kelas kakap senilai Rp. 85 triliun yang masuk dalam tahap penyidikan Kejaksaan Agung. Sementara menurut data di Kejaksaan Agung sendiri, tahun 2001 saja tercatat ada 17 kasus korupsi triliunan rupiah uang negara yang disidik di Kejaksaan Agung. Sehingga kehadiran Pak Lopa sebagai Jaksa Agung saat itu jelas mempunyai warisan pekerjaan rumah yang tidak bisa dikatakan terlalu ringan. Meski demikian, semangat dan tekadnya untuk membersihkan Indonesia dari makhluk bernama korupsi terus menggelora. Buktinya, Pak Lopa harus kerja keras hingga lembur. Hanya sayang, Sang Khaliq terlalu cepat mengakhiri “masa kontrak”-nya hidup di dunia ini.
Harus diakui, langkah nyata Pak Lopa dalam memberantas korupsi membuat banyak kalangan mulai kembali optimis. Betapa tidak, hukum di negeri ini ternyata masih ada yang mampu menjaganya. Walaupun tak sedikit yang khawatir bahwa Pak Lopa justru berada dalam sebuah bahaya besar dalam posisinya sebagai Jaksa Agung, yang hanya dipimpinnya selama sebulan. Namun, Pak Lopa akhirnya bisa membuktikan dirinya sebagai orang yang mampu mengimplementasikan hukum secara benar.
Itulah Pak Lopa yang tidak suka neko-neko dalam memikul tanggung jawabnya. Yang tidak punya rasa takut kepada sesama manusia, kecuali kepada Sang Pencipta.

Bagi saya, Pak Lopa adalah pahlawan atau tokoh bangsa yang tiga filosofi (prinsip kehidupan) : bersih, sederhana, dan mengabdi. Pribadinya yang bersih mewakili kerinduan banyak orang akan kehadiran pejabat yang sederhana dalam mengabdi secara tegas demi kepentingan bangsa. Pak Lopa adalah seorang anak bangsa yang telah menutup buku kehidupannya yang begitu berwarna. Sungguh, perginya sebuah keteladanan.
Terima kasih Pak Lopa yang telah memberikan inspirasi dalam orientasi sebanyak mungkin bagi banyak orang di negeri tercinta ini. Semoga bangsa besar ini bisa belajar tentang cerita keteladanan di atas pusara Sang Pendekar Hukum dari Mandar itu. Amin.


*Penulis adalah Dosen Ilmu Hukum di Unsulbar Majene dan STAIN Majene.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *