Selamat Datang Adikku MABA “Mahasiswa Batu”

Oleh : Supriadi*

sandeq.netpolman, Bercerita tentang selut belut mahasiswa yang begitu rumit takkan ada habisnya. Kata maha yang melekat dalam dirinya hanya menjadi pelengkap retorika. Mahasiswa tidak lagi menjadi harapan bangsa, tetapi menjadi pengikut penguasa sebab perut yang kosong.
Selamat datang adikku Mahasiswa baru, kutuliskan surat ini kepadamu agar kau mengerti arti berjuang.

Dengan sedikit bermimpi kau mampu melihat bintang-bintang tetapi kakimu tetap berpijak di bumi. Mungkin kau membayangkan betapa indahnya memakai baju pilihan hati kau sendiri, kemeja kotak-kotak yang hanya kau pakai pada saat lebaran kini kau akan memakainya setiap hari. Bayang-bayangmu tentang mahasiswa hanya sampai pada sinetron anak jalanan atau mungkin film Tri Idiot yang menceritakan betapa kampus hanya menjadi pabrik pencetak tenaga pekerja.

Adikku, sukar kukatakan bahwa hati ini ragu-ragu akan menjadikanmu mahasiswa yang aktivis atau mahasiswa apatis. Sebab demikian hal yang kuperjuangkan tak mampu mendapatkan hasil yang sempurna. Kau akan mendapatkan seniormu yang gondrong, lalu kau sebut ia aktivis.

Memperjuangkan hak kemerdekaan, tetapi ketika ia sampai pada titik ujian meja maka akan tunduk dan mencukur rambutnya. Atau barangkali kau juga akan menemukan seniormu yang memakai celana jeans dengan kemeja bersih nan rapih elok dipandang dan menghangatkan mata. Tetapi akan kumuh tak terawat ketika memasuki masa penyusunan skripsi.

Adikku, memang aku akui ini berat untukmu tetapi bukan berarti tak mampu kau lewati. Dan yang paling aku takutkan adalah kemahiran retorika senior dari organisasi yang mencengankan. Kau akan melayan dibuatnya, tanpa kau sadari tujuanmu masuk kuliah telah berbelok arah. Bagiku organisasi memang harus kau masuki, tetapi tidak untuk kau jadikan tujuan.

Adikku mahasiswa baru, perkenangkan saya melipat kembali arti kata akademisi. Mereka adalah seorang filsuf yang bersembunyi di atas gunung sambil berdiskusi tentang Negara, dan mereka inilah yang disebut akademisi. Sebelum kita melangkah lebih jauh, ada sesuatu yang ingin kukatakan kau bukanlah robot yang diprogram untuk selalu bekerja.

Memaknai kuliah sebagai proses pendalaman ilmu akan menjadikanmu sukses di masa depan. Surat ini kutulis setelah rambutku menjadi penghalang untuk mendapatkan nilai final. Bukan mengadu, hanya saja banyak diantara kebenaran hanyalah kesesuaian antara waktu dengan keadaan.
Ketika kau bertanya kepadaku tentang mahasiswa, aku hanya mendapatkan gambaran manusia yang memakan intektualnya sendiri.
Adikku mahasiswa baru, kau akan menjalani ospek dari kampus, kau hanya akan jadi badut dan budak dari para senior. Tetapi jangan salah, mereka hanya mengasah mentalmu agar menjadi pribadi yang kuat, kendatipun harga dirimu akan dikoyak-koyak oleh mereka yang terlalu memaknai senioritas sebagai hukum dari kekuasaan. Sungguh aku takut menjadi senor, ketika kau bertanya dan aku tak mampu menjawabnya.

Setelah itu, kau akan menjalani rutinitas kuliah dalam kelas. Dalam hal ini kau mungkin akan kaget dengan metode mengajar yang sangat berbeda dengan SMA, mungkin tugas pertamamu adalah membuat Makalah lalu kau presentasikan didepan temanmu. Apa yang kau dapat setelahnya, hanya judul materi dan coreta pulpen dari Dosenmu. Itu bukanlah yang pertama, sebelumnya kau akan mendapatkan kontrak kuliah, tetapi hanya untuk diri kau sendiri. Ketika misalkan kau terlambat masuk kelas maka akan ada konsekuensi dari kontrak yang telah disepakati, tetapi ketika Dosenmu yang terlambat kau hanya akan menjadi Remaja yang baru saja diputuskan. Kau tak bisa marah adikku, sebab keberkahan ilmu ada pada dosenmu.

Tetapi mulailah gunakan akal pikiranmu, antara kewajiban dan hak harus terpenehui. Kewajibanmu adalah membayar seluruh administrasi (SPP & SKS) dan setelah itu tuntutlah hakmu yaitu Ilmu. Jangan takut, engkau tak sendirian, bangkitkan kembali kata Maha yang melekat dalam dadamu. Kau bukan lagi anak SMA yang memaknai belajar hanya sebuah proses transfer ilmu.

Kuliah harus kau maknai sebagai proses pendalaman Ilmu Pengetahuan, Dosenmu hanya memberikan kesempatan belajar sehingga Ilmu yang kau dapatkan tidak hanya bersandar pada buku tetapi nyantok dalam pikiranmu. Simplifikasinya setelah berilmu engkau akan mengabdi.

Adikku mahasiswa baru, ketika kita bertemu nanti aku ingin engkau meneriakkan Tri Dharma perguruan tinggi dipelataran kampus lalu kobarkan semangat juang sumpah mahasiswa.

*Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Al-Asyariah Mandar, Polewali Mandar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *