Menyoal Edukasi 4.0

Industry 4.0 and industrial internet of things concept with vector illustration of a connected digital world

sandeq.net – Opini ini ditulis berdasarkan minat yang tak tebendung dari penulis melihat realitas betapa besar potensi Sumberdaya Manusia Kabupaten Mamuju Tengah yang multikultural dan multietnik. Namun tentu potensi ini tidak hanya berdampak positif semata melainkan juga dapat menjadi sumber konflik jika tidak dibarengi dengan pendidikan yang arif.

Memasuki Era Industri 4.0 tentu berdampak sistematis terhadap model dan sistem pendidikan hari ini. Dintaranya Artificial intelligence (AI) yang telah menjamur hampir disetiap produk kebutuhan manusia yang tentu membutuhkan tingkat adaptasi pengetahuan lebih, untuk ikut dalam perkembangan tersebut. Budaya digital Smartphone terkadang menjadih lebih cerdas dari penggunanya, bahkan berpotensi memperbudak penggunanya. Digitalisasi sistem Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) adalah salah satu bukti bahwa pendidikan kini sudah disusupi oleh teknologi canggih sehingga memaksa seluruh penggiat pendidikan untuk terjun kedalam Edukasi 4.0. oleh sebab itu penting kiranya sebagai penggiat pendidikan untuk ikut beropini dalam perkembangan sistem dan budaya pendidikan hari ini.

Edukasi 4.0 tentu harus menjadi bahan evaluasi terhadap model-model sebelumnya, atau bahkan menjadi penyesuaian terhadap model edukasi 1.0, 2.0 dan edukasi 3.0. sebelum mengulas tentang edkasi 4.0, tentu harus dimulai dari model edukasi 1.0 sebab Pada dasarnya cara membuat Versi edukasi tersebut sebenarnya hendak meniru versi kemajuan teknologi digital. Sambil mengimplikasi syarat penggunaan teknologi digital didalam edukasi. Dan penting unutuk dicatat, bahwa meskipun versi yang lebih tinggi selalu dianggap lebih maju, tidak berarti versi yang lebih rendah menjadi tidak valid. Artinya semua versi akan menjadi efektif bila digunakan dalam kondisi tertentu.

Sebelum sampai pada model edukasi 4.0, terlebih dahulu wajib kita lalui model edukasi 1.0, 2.0, dan 3.0. edukasi 1.0 adalah model dimana Guru menjadi sumber ilmu dan murid menjadi penerima ilmu (mengajar dan menghafal). Edukasi 2.0 adalah model dimana guru dan murid bermitra untuk belajar(pendidikan sudah mulai memanfaatkan internet). Adapun pada edukasi 3.0 murid secara kolektif menjadi sumber ilmu bagi individu, dimana guru menjadi Fasilitator dan narasumber pendukung didalam proses belajar (Pendidikan Berbasis Pengetahuan). Dan Edukasi 4.0 tidak berfokus pada ‘apa yang diajarkan’ tetapi melakukan pendekatan bernuansa ‘cara mengajarkannya‘, sehingga dapat mengembangkan dan meningkatkan pendidikan individual yang akan terus mendefinisikan cara anak-anak masa depan bekerja dan hidup (Pendidikan berbasis Inovasi).

Diantara pembagian versi edukasi tersebut, sebenarnya saya lebih cenderung menggunakan beberapa jenis pendekatan, diantaranya :

  • 1). Pendekatan pembelajaran sebagai proses dasar individu untuk memahami bebagai kenyataan didalam kehidupan. Pendekatan tersebut akan memberi kemampuan untuk berkontribusi secara original dalam setiap perubahan realitas.
  • 2). Pendekatan proses memahami, proses memahami harus mampu merekonstruksi ulang realitas secara mental didalam pikiran melalui bantuan bahasa, yang kemudian tereprensentasi dalam wujud pengetahuan.
  • 3). Pendekatan keberhasilan pembelajaran, hal ini terjadi apabila sudah menghasilkan pengetahuan tentang realitas. Pengetahuan itulah kemudian yang dibagikan kepada orang lain untuk mengubah realitas kehidupan yang dianggap sebagai kebijaksanaan.

Berdasarkan pengalaman berpraktik dalam dunia pendidikan, Baik dalam pendidikan Formal, Informal Maupun dalam gerakan pendidikan nonformal, saya melihat empat cara individu didalam memahami realitas. Pertama, dengan menggunakan pikiran secara deduktif (logis) yakni menggunakan informasi verbal, audio, serta bahasa alamiah (linguistik). Melalui percakapan, sehingga kita mampu merekonstruksi realitas dalam pikiran/mental. Tentu kita membutuhkan logika (logos, diskritisasi) untuk bisa menerima suatu informasi menjadi pengetahuan. Kedua, dengan menggunakan Indera secara induktif (rasional) yaitu menggunakan pengamatan dan pengalaman indera, melalui rasionalitas, Indera akan mengirimkan visualisasi kenyataan untuk diolah menjadi sebuah pengetahuan yang akan direspon secara rasional oleh pengalaman-pengalaman sebelumnya. Ketiga dengan menggunakan imajinasi secara kreatif (sintesis, imajinatif). Berdasarkan pengalaman-pengalaman manusia, dilakukan penggabungan untuk menghasilkan realitas yang lebih baru. Keempat dengan menggunakan Action (tindakan) secara konstruktif, tindakan mampu merubah realitas yang dihadapi berdasarkan realitas internal yang diciptakan didalam pikiran.

Jika Mengacu pada perkembangan model Edukasi 1.0 hingga 4.0 melalui beberapa pendekatan Realitas, maka tentu persoalan Multikultural dan multietnik perlu mendapatkan perlakuan khusus, sebab kita tahu bahwa mamuju tengah masih termasuk daerah 3T yang tentu kedepan dibutuhkan kerja serius oleh para pemerhati pendidikan di kab. mamuju tengah. Sebut saja sekolah alam salulebbo’ yang tentunya masih mengandalkan fasilitas alam sebagai tempat belajar dan berpraktik. Serta beberapa sekolah dasar yang terletak dipelosok-pelosok kab. mamuju tengah yang masih jauh dari kata layak. Umumnya, mereka yang dipelosok masih jauh dari jangkauan internet sehingga edukasi 4.0 tentu menjadi tidak memungkinkan.

Pada dasrnya Model Edukasi 4.0 mengedepankan Inovasi pembelajaran berbasis E-Pendidikan  sehingga perangkat dan konten dianggap lebih efektif untuk transfer pengetahuan. Namun tentu E-Pendidikan juga harus diadaptasi berdasarkan kultur masing-masing pengguna Agar kesenjangan mampu dikejar secara arif. Berbagai negara maju telah membuktikan bahwa pengetahuan tidak merubah sesorang untuk menjadi lebih bijaksana, ditambah lagi oleh tatangan teknologi yang kian pesat sehingga memberi kesempatan bagi robot untuk mengambil alih ruang dan peluang kerja bagi manusia yang memiki keterlambatan dalam belajar. Sehingga kata Bodoh hanyalah sebuah kesimpulan yang sangat lemah untuk menjustice mereka yang memiliki keterlambatan didalam belajar. Sebab pada dasarnya pengetahuan adalah seusatu yang pasti sehingga setiap orang memiliki peluang yang sama untuk menjadikan pengetahuan tersebut sebagai ilmu yang bermanfaat. Hanya terkadang sistem pendidikan formal menutup pintu bagi mereka yang memiliki keterlambatan tersebut.

Jika mengacu pada aspek perkembangan Model Edukasi 4.0, tentu kab. mamuju tengah harus bekerja lebih keras lagi untuk melakukan sintesis dan evaluasi atas Versi-versi sebelumnya. Agar tidak sekedar ikut-ikutan dengan kurikulum kekinian. Sebelum melakukan Bimbingan teknis mengenai Kurikulum dan Rancangan Proses Pembelajaran, Tentu pihak terkait wajib mengintip Standar isi pada masing-masing institusi Formal, sehingga program pengembangan SDM tidak didasarkan pada Aspek Formalitas melainkan aspek Kualitas. Sebaliknya Pendidikan Nonformal justru perlu dipertemukan dengan pihak Formal sebagai Rekonstruksi paradigma pembelajaran untuk mendapatkan realitas peserta didik secara komparatif.

Setelah beberapa tahun bergelut dengan pendidikan formal dan Nonformal, Rasanya saya lebih betah berlama-lama didalam kultur pendidikan nonformal yang mengesampingkan Rambu-rambu formalitas. Alasan yang mendasari pilihan saya tentu adalah Inovasi Edukasi 4.0 yang lebih fleksibel didalm merespon realitas kekinian. Dari bengalaman tersebut, saya melihat Mamuju Tengah telah berhasil melalui model edukasi 1.0,2.0 dan 3.0 sehingga saya yakin mamuju tengah sangat siap menerapkan Edukasi 4.0 dengan syarat berani memberi ruang bagi pendidikan Altrnatif untuk berkolaborasi dan berinovasi berdasarkan latar belakang Kultur masing-masing peserta didik. Jika kita pernah menonton film “waiting for superman”, tentu kita sepakat bahwa ada banyak kesenjangan pendidikan yang terjadi didaerah kita. Sehingga keterbukaan didalam menerima perbedaan gaya belajar perlu menjadi fokus utama agar peserta didik menemukan diri mereka didalam kenyataan, bukan malah menjebak mereka didalam imajinasi yang kontraproduktif dengan potensi mereka.

Pada akhirnya kita kembali pada tujuan awal pendidikan kita yaitu pengembangan SDM yang multikultural, agar pendidikan tidak mengacu pada prestasi individual maupun institusional melainkan prestasi kolektif. Saya berharap pendidikan mamuju tengah tidak diukur berdasarkan prestasi sekolah dan lulusan melainkan kontribusi siswa, guru dan orang tua dalam pembangunan mamuju tengah. Kesimpulan yang ingin saya katakan adalah Pendidikan Mamuju Tengah Hanya Butuh Sikap Arif Untuk Bersama-sama Menyongsong Edukasi 4.0.

Penulis : Antri jayadi.
Founder PKBM Lallatassisara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *